Posted by Ibnu | Posted in Cermin Hati | Posted on 08-11-2012-05-2008
7

Habis bongkar-bongkar laptop, nemuin file ini yang mana aku dapatkan dari teman, mengenai menanggapi perbedaan, berikut isinya:
Perbedaan ada bukan untuk dijadikan alat perpecahan. Banyak hal positif yang bisa kita peroleh dengan perbedaan. Namun, tentu saja semua itu harus bersyarat. Nah, syarat apa saja yang harus dipenuhi?
Berikut di antaranya :
1. Cara pandang kita terhadap perbedaan.
Berpikirlah positif dengan mensyukuri adanya perbedaan. Anggaplah perbedaan sebagai kekayaan. Cara pandang yang benar akan melahirkan sikap yang tepat. Ada baiknya kita mencari persamaan terlebih dahulu, sebelum mencari perbedaan.
Read the rest of this entry »
Posted by Ibnu | Posted in Cermin Hati | Posted on 04-11-2012-05-2008
0

Namanya manusia pasti pernah merasa bersalah, kita merasa sangat berdosa setelah melakukan kesalahan yang kita lakukan baik pada diri sendiri maupun orang lain. Rasa bersalah itu baru timbul beberapa saat setelah kita melkukan perbuatan salah. Kadang ada juga manusia yang sudah melakukan salah tetapi sama sekali tidak merasa bersalah. Itulah orang-orang yang memiliki hati keras bagaikan batu beton.
Sering aku merasa salah atas apa yang aku lakukan kepada orang lain. Sering kali aku berucap asal ceplos tidak menghiraukan perasaan orang lain walaupun aku niatnya hanya bercanda tapi kita tidak tahu bagaimana perasaan lawan bicara kita. Kadang ketika kita sudah minta maaf, masih ada saja godaan-godaan untuk berbuat hal yang serupa kembali. Mulut ini memang dianugrahkan untuk berbicara, tetapi mulut ini terkadang sangat runcing dan suka menusuk ke hati orang lain. Read the rest of this entry »
Posted by Ibnu | Posted in Headline News | Posted on 17-08-2012-05-2008
0
Berhati lurus adalah menjaga hati dan pikiran agar tidak mudah goyah oleh godaan. Bagi yang berkepribadian lemah dan berjiwa rapuh akan mudah tergoda pada kesenangan duniawi. Mata kita hanya melihat benda-benda yang indah, telinga kita hanya akan mendengar suara yang merdu dan lidah hanya mau mencicipi makanan yang lezat. Tubuh menjadi manja, dan pikiran menggembara ke mana-mana tanpa dapat dikendalikan.
Orang bijak mengatakan, bahwa perang yang tidak ada habisnya adalah perang melawan diri sendiri. Mush yang paling sulit ditaklukkan adalah diri sendiri. Hati yang bercabang ibarat kuda yang lepas dari kendali. Karena itu kita harus menjaga keseimbangan hati dan pikiran kita. Hindari pikiran yang menyesatkan , karena nantinya akan menimbulkan malapetaka bagi diri sendiri. Bila kita ingin menuai benih kebahagiaan, taburlah benih kebaikan. Kita mulai dengan menanam bibit-bibit kebaikan, mencabut rumput-rumput ketamakan, kebencian, iri hati, mengairinya dengan ketabahan dan kemurahan hati, serta menyuburkannya dengan member pupuk perilaku yang berbudi (Bung Karno)
Pemikiran Bung Karno di atas bisa kita sangkut pautkan dengan kondisi sekarang ini. Bolehlah Indonesia merdeka selama 67 tahun, tapi sudahkah kita memerdekakan diri sendiri, bisakah kita menaklukkan ego/nafsu negatif pada diri kita masing-masing? Momen Ramadhan sudah hampir berakhir, momen ini sesungguhnya momen yang penting untuk mengumpulkan serpihan-serpihan pada diri kita yang telah “terjajah” oleh iblis selama 11 bulan. Ramadhan merupakan momen yang tepat untuk mempersiapkan diri untuk melawan kembali para iblis di luar bulan suci.
Semoga kita, sebagai rakyat Indonesia, menjadi orang yang “merdeka” dan semoga puasa kita diterima oleh Allah SWT. Mumpung momenya mendekati lebaran, saya ingin mengucapkan:
“Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Ja’alanallaahu minal aidin wal faizin”
MERDEKA INDONESIAKU DARI PENJAJAH!!
MERDEKA SELURUH UMAT MUSLIM DARI DOSA-DOSA!!
Posted by Ibnu | Posted in Cermin Hati | Posted on 18-05-2011-05-2008
12
Tulisan di bawah ini saya buat atas dasar fenomena dimana beberapa orang menggunakan tehnik komunikasi yang sama pada khalayak yang berbeda yang sejatinya memiliki daya tangkap yang berbeda.
Ada perbedaan ketika kita hendak memukul bola tenis, memukul anjing, dan memukul manusia. Sebelum kita memukul bola tenis, kita tahu kemana mengarahkan bola tenis tersebut setelah dipukul. Tetapi, sebelum kita memukul anjing, kita tidak akan pernah tahu apa respon si anjing, entah akan menggigit, menangis, atau lari. Dan yang paling sulit adalah ketika kita memukul orang, meramalkan respon manusia jauh lebih sulit daripada respon si anjing tadi. Manusia mengenal politik, pura-pura, balas dendam dan lain sebagainya.
Maka daripada itu untuk “menyentuh” manusia harus menggunakan seni dan ketelitian. Memang kita masih belajar akan banyak hal, tetapi ketika kita merasa benar bukan berarti kita bisa menyalahkan orang seenaknya. Karena manusia bisa merasa, berbeda dengan anjing atau bola tenis yang bisa diarahkan seenaknya.
Tapi kita juga harus berhati-hati, karena saat ini banyak yang ingin “menyentuh” manusia tetapi untuk mendukung kejahatan atau perbuatan buruk lainnya. Jadi, kita harus lebih teliti dalam “menyentuh” orang lain dan menerima “sentuhan” dari orang lain. Sekian.
Posted by Ibnu | Posted in Hanya Coretan | Posted on 24-02-2011-05-2008
17
Berputusasalah jika kamu ingin mengorbankan hidupmu untuk kesia-siaan belaka. Ketika engkau sudah tidak mau lagi untuk mengejar mimpi walaupun sebenarnya engkau sanggup. Ketika engkau sudah lupa akan perjuanganmu, ketika semangatmu membara pada awal melangkah. Untuk apa semangat bila akhirnya harus berhenti ketika belum memetik hasil.
Ketika jalan ke Roma menemui jalan buntu, bukankah masih ada jalan yang lain untuk kesana? Tapi engkau berdiam diri meratapi nasib, ya sudah berputusasalah saja! Ketika engkau berpikir bahwa lagu akan selalu harmonis tetapi engkau belum bisa menerima ketika kunci-kunci nada hidup meleset, lalu buat apa punya akal untuk belajar? Ya sudah berputusasalah! Read the rest of this entry »
Posted by Ibnu | Posted in Cermin Hati | Posted on 17-02-2011-05-2008
21
Suatu malam saya ingin membuat sebuah tulisan , sendiri di depan monitor menanti rasa kantuk hadir. Ketika itu saya masih belum memiliki ide menulis apa, tapi berhubung blog sudah jarang diupdate maka postingan inilah yang muncul. Sambil menyaksikan bioskop TV saya menyusun kata demi kata untuk menyampaikan tujuan dari tulisan ini. Dan pada hari berikutnya saya menyelesaikan tulisan ini.
Read the rest of this entry »
Posted by Ibnu | Posted in Cermin Hati | Posted on 03-02-2011-05-2008
11

Ada 4 lilin yang menyala, sedikit demi sedikit habis meleleh. Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.
Yang pertama berkata:
“Aku adalah Damai, namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!”
Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.
Yang kedua berkata: Read the rest of this entry »