Slogan “Solo, The Spirit of Java” yang lahir atas dasar citra yang ingin di bangun karena kekhasan karakteristik dan potensi yang ada. Hal tersebut saat ini menjadi sesuatu yang sedang diangkat oleh pemerintah Kota Solo. Solo selalu diramaikan oleh agenda-agenda tradisional yang diberi sentuhan modern, sebut saja ajang penampilan kesenian daerah yang diagendakan rutin bernama SIPA (Solo International Performing Arts) atau yang baru saja diadakan Solo Menari, dsb. Pemerintah seolah-olah ingin membentuk kota Solo yang baru dengan menghadirkan sesuatu yang berbau “kuno”.
Identitas Solo sempat terpuruk karena mendapatkan stereotype dari orang luar bahwa masyarakat disini memiliki “sumbu pendek” atau mudah marah, banyak terorisnya, dst. Padahal hanya kebetulan saja teroris itu bersinggah di Solo, bukan berarti Solo tempat teroris bukan? Banyak sekali potensi-potensi warga Solo yang membanggakan, misalnya saja warga di daerah Kauman atau Laweyan yang hampir di setiap rumah membuat kerajinan batik.
Proses pemasyarakatan “Solo, The Spirit of Java” tidak cukup sulit karena background budaya yang sama. Masyarakat di Solo sudah sejak lama menganut budaya kejawaan bahkan sebelum hadir kerajaan Mataram. Maka dari itu, slogan tersebut mudah menyatu dengan jiwa masyarakat. Pengembangan-pengembangan potensi di wilayah terus ditingkatkan baik segi ekonomi maupun pariwisata. Ditambah lagi proses pembangunan jalan tol semarang-Solo akan banyak membantu pengembangan ini.
Banyak sekali manfaat-manfaat yang dibawa oleh identitas Solo, baik dari segi internal maupun eksternal. Dari segi internal sangat berguna sebagai alat pemersatu masyarakat Solo, jadi walaupun sebagian warga Solo adalah masyarakat modern tapi dengan identitas baru ini diharapkan mereka mulai mengenal bahwa Solo kota yang kaya akan kebudayaan tradisional di dalam zaman modern. Manfaat dari segi eksternal yaitu terbangunnya citra yang baik dan menjadikan Kota Solo menarik untuk berinvestasi dan menarik untuk dikunjungi wisatawan.

Werkudoro
Saat ini banyak hal-hal baru yang bisa ditemui di Kota Solo. Dalam hal pariwisata, di Kota Solo telah menghadirkan kembali bus tingkat yang diresmikan pada saat hari jadi Kota Solo yang ke-266. Bus tingkat bewarna merah ini memiliki nama “Werkudara”. Nama “Wekudara” diambil dari tokoh pewayangan, salah satu anggota Pandhawa yang memiliki tubuh tegap dan tinggi. Dengan adanya bus tingkat ini, Solo menjadi satu-satunya kota yang memiliki bus tingkat wisata dan karena itu pula bus tingkat tersebut mendapatkan rekor MURI.

kereta jaladara
Selain bus tingkat sebelumnya terdapat pula kereta wisata Solo yang bernama “Jaladara”. Jaladara adalah satu-satunya di dunia kereta uap yang beroperasi. Untuk informasi lebih lanjut mengenai titik-titik pemberhentian wisata, silakan kunjungi website Solo Kluthuk Jaladara. Dengan begitu, icon-icon Solo semakin bertambah dan bermanfaat menambah kesadaran wisatawan akan budaya.
Jadi, Solo seolah-olah kembali ke jaman dahulu, contohnya itu tadi bus tingkat dan juga kereta uap. Slogan “Solo, The Spirit of Java” jika benar-benar kita pahami akan meimiliki makna yang dalam. Sekian.

Pekan Informasi Nasional